“Lorong Coklat” Penuh Senyum dan Sapa

oleh -
Kasubag Humas Polresta Jayapura Kota, AKP. Jahja Rumra saat bersama para kuli tinta disuatu kesempatan. Foto: Istimewa

KANAN-kiri sepanjang lorong yang saya lalui serba coklat ketika memasuki Polresta Jayapura Kota. Tatapan awas selalu ku dapatkan ketika berpapasan dengan “manusia” berseragam ketat dan gagah. Mereka yang berpapasan dengan ku pun menebarkan senyum ramah, walau tampang mereka yang begitu sangar bagi ku. Ah, saya jadi tidak sabar bertemu Pak Jahja.

Suasana tampak lenggang ketika ruangan Humas kumasuki. Hanya kudapati seorang dengan pakaian preman.

“Ada pak Jahja”? tanyaku. Orang diseberang meja menjawab bahwa beliau ada keluar. “Mungkin lagi sholad. Tunggu saja,” katanya. Saya pun dipersilahkan untuk duduk disisi selatan ruang berukuran 4 x 4 meter tersebut.

Tak berselang lama, orang yang kutunggu pun datang. “Sudah lama Roy,” tanya pak Jahja Rumra pemilik kumis minimalis. Sambil melihat arloji di tanganku, jawabku, “Belum lama kok. Baru lima menitan,” kataku.

Diskusi pun berjakan bak bapak dan anak. Yah, pak Jahja, begitulah disapa memang “cair” kalau diajak ngobrol. Kepribadiannya sebagai sosok ayah selalu melekat dalam mengemban tugas sebagai Kepala Sub Bagian (Kasubag) Hubungan Masyarakat (Humas) Polresta Jayapura Kota.

Suami dari Saidah, menurut rekan-rekannya, adalah seorang yang humanis, dia selalu menyapa siapapun yang dikenalnya, baik itu masyarakat maupun rekan sesama kerja.

“Beliau selalu menunjukkan sikap ke-bapak-annya. Selain sebagai senior, dan unsur pimpinan di jajaran Humas, beliau juga kami anggap sebagai bapak kami sendiri. Dia (Jahja) paling mengerti apa yang kami butuhkan dalam menjalankan tugas,” kata Andi, salah satu anggota Polri yang bertugas di Humas Polresta Jayapura Kota.

 

“Awalnya saya buta. Basic saya sebenarnya dari Reskrim, namun sebagai seorang Polisi, saya harus bisa ditempat dimana saja dan bekerja sesuai dengan perintah yang diturunkan oleh atasan. Saya mulai belajar, dan ini semua dilakukan secara otodidak,”

 

Ayah, dari Mochtar, Isna, dan Prawira tersebut kini berpangkat AKP yang mana telah menyelesaikan pendidikan S1 dan S2 Hukum, dan berhak menyandang gelas Sarjana Hukum (SH) dan Magister Hukum (MH).

Humas bukan pekerjaan yang mudah. Butuh ketangkasan khusus, apalagi harus berhadapan dengan para kuli tinta. Walau wajahnya terlihat letih, namun masih tetap memberikan senyum kepada anak buahnya maupun para jurnalis yang ingin mendapatkan informasi dari dirinya.

“Awalnya saya buta. Basic saya sebenarnya dari Reskrim, namun sebagai seorang Polisi, saya harus bisa ditempat dimana saja dan bekerja sesuai dengan perintah yang diturunkan oleh atasan. Saya mulai belajar, dan ini semua dilakukan secara otodidak,” kata Jahja memulai diskusi.

Mengawali pendidikan Bintara Polri medio 1986 dan disematkan sebagai anggota Polri pada medio 1987, Jahja “muda” ditempatkan di Polsek Jayapura Utara (Japut).

“Dulu, saya tes Polisi di Polda Maluku, namun waktu itu, SPN Ambon ada persoalan, jadi kami yang tes disana dan dingatakan lulus, dikirim ke Irian Jaya (sekarang-Papua) untuk menempuh pendidikan di SPN Jayapura. Tempat tugas saya pertama adalah di Polsek Japut,” kisah Jahja.

Perawakannya yang humanis tersebut tak pelak membuat hampir sebagian jurnalis cukup dekat dengan beliau.

“Kalau sudah kenal, pak Jahja selalu berkelakar dengan kami, baik itu diluar ruangan maupun di lapangan (saat bekerja). Pak Jahja adalah sosok bapak dan juga Polisi yang sangat menjiwai pekerjaannya,” kata Alfira, jurnalis Cenderawasih Pos yang kesehariannya meliput berita kriminal. (Roy Ratumakin)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *